Minggu

Jadilah PENDIDIK, bukan PENGAJAR !!!

9 komentar
Guru adalah sebuah pekerjaan yang mulia, sewaktu masih kecil dulu pun, sempat tersirat dalam fikiranku sebuah keinginan untuk menjadi seorang guru nantinya, inti dari cita-cita tersebut adalah adanya keinginan untuk mampu mentransfer ilmu yang kita miliki, namun setelah melihat kondisi sesuai faktanya, ternyata metode mengajar dengan hanya mentransfer ilmu saja tidaklah cukup, tapi harusnya juga di sertai dengan pemahaman tentang moral yang baik kepada subject yang kita ajar. Itulah sebabnya masih banyak orang yang merasa kebingungan tentang makna dasar dari seorang pendidik ataupun pengajar. Dua kata ini sekilas memiliki makna yang tampak sama, namun jika kita analisa lagi secara mendalam, di temukan sebuah perbedaan makna dari kedua kata tersebut. Sebelumnya coba kita lihat video di bawah ini, video tersebut saya ambil dengan menggunakan narasumber dari beberapa siswa dan calon mahasiswa, di sini dapat kita lihat, seberapa pahamkah mereka tentang makna seorang pengajar dan pendidik.



Dari video tersebut, muncul berbagai pendapat tentang apa itu pengajar dan apa itu pendidik. Dan menurut asumsi saya peribadi, perbedaan antara pendidik dan pengajar, terletak pada pendidikan moral yang di berikan, pengajar hanya bertugas untuk mentransfer ilmunya kepada orang lain, namun tidak memiliki kewajiban untuk membentuk moral dari orang yang dia ajar. Sedangkan Pendidik tidak hanya mampu mentransfer ilmu, namun juga mampu membentuk moral dari orang yang dia ajar.

Cukupkah Hanya dengan Menjadi Seorang Pengajar untuk turut membangun bangsa ?

Seorang pendidik memiliki kemampuan untuk mentransfer ilmu layaknya pengajar, namun seorang pengajar tidak mampu untuk melakukan hal yang sama layaknya pendidik, yakni turut bertanggung jawab atas moral dari orang yang di didik, dan itu merupakan sebuah amanah yangcukup besar, karena apa yang akan di lakukan oleh orang yang telah terdidik, merupakah hasil binaan dari si pendidik.
Menjadi seorang pengajar adalah sebuah pekerjaan yang sangat mulia, karena dia turut mencerdaskan bangsa berkat kerjanya, Pengajar mampu menciptakan orang-orang yang cerdas , bukankah akan menjadi makmur negara ini jika semua pemimpin ataupun warga negaranya cerdas, berkat seorang pengajar ? Jawabannya BELUM TENTU !!!
mereka memang cerdas dalam berfikir, namun belum tentu mereka juga cerdas dalam bertindak serta memiliki moral yang baik.
buktinya ? kita lihat saja para pemimpin dan wakil rakyat, tidak mungkin mereka bisa duduk di kursi kebanggaan mereka jika mereka tidak cerdas, namun masih banyak wakil rakyat tersebut yang melakukan tindakan layaknya orang yang tak berpendidikan, ada beberapa berita yang menyebutkan bahwa wakil rakyat pernah menonton video porno dalam sidang, dan bahkan pernah ada wakil rakyat yang video mesumnya tersebar ke masyarakat, namun yang paling mencolok adalah hobi beberapa wakil rakyat untuk mencuri uang negara, yang tentunya uang itu milik rakyat. Jika kita telusuri lagi dalam setiap kasus korupsi di butuhkan sebuah Taktik dan kecerdasan Tinggi oleh si pelaku untuk mencuri uang Negara , hingga tak seorangpun mampu mengetahuinya, namun apakah itu termasuk prilaku orang berpendidikan ? tentu TIDAK , itu karena mereka tidak memiliki dasar moral serta pendidikan yang baik. Mereka (Para Koruptor)Hanya memikirkan kesenangan mereka, tanpa memikirkan nasib jutaan rakyat yang mereka rugikan, dan dampak besar lain dari korupsi yang mereka lakukan. Karena itulah Indonesia tidak membutuhkan para pemimpin yang Terpelajar namun tak bermoral, yang Indonesia butuhkan adalah orang- orang yang terdidik, yang secara tak langsung mereka akan bertanggung jawab terhadap amanah yang mereka pegang.

Mencontek, Budaya awal bagi terlahirnya seorang calon koruptor, lalu di manakah si pendidik ?
Mencontek masih menjadi Budaya pelajar. Semua orang tau bahwa mencontek merupakan tindakan tidak jujur, dan tidak dapat di pungkiri bahwa prilaku mencontek ini pernah di lakukan hampir oleh semua orang, dengan satu alasan yang sama, yakni “TERDESAK”, saya sendiripun pernah melakukan hal yang sama, yakni mencontek saat ujian, memang nilai tinggi yang didapat, namun tidak ada kepuasan tersendiri dari nilai yang tercetak. akhirnya kini tertanam dalam diri saya bahwa tidak ada kepuasan tersendiri selain memperoleh nilai hasil kerja pribadi.
Budaya Mencontek ini Muncul karena adanya keinginan untuk memperoleh nilai setinggi-tingginya tanpa adanya kesadaran tentang makna sebuah kejujuran. Itu karena Nilai cenderung digunakan sebagai Penunjuk Kecerdasan, Nilai muncul di raport dan dapat di lihat oleh semua orang, Jika Nilai Jelek orang Tua Marah, Jika Nilai Baik Orang Tua Bangga. Itulah Pemahaman yang selalu tertanam dalam diri kita.
Penanaman paham bahwa nilai itu segalanya, tidak di imbangi dengan penanaman moral bahwa sebuah kejujuran itu jauh lebih berharga, mengabikatkan mencotek menjadi sebuah budaya yang secara turun temurun terus di lakukan oleh pelajar yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa. Budaya Inilah yang secara tak langsung melahirkan koruptor-koruptor baru, karena sejak kecil mereka tidak di ajarkan pentingnya sebuah kejujuran. Hingga prilaku buruk tersebut mereka bawa hingga dewasa. Lalu dimana peran seorang Pendidik ?
Guru yang digambarkan sebagai seorang pendidik di lingkungan sekolah, masih banyak yang belum mengetahui tentang makna menjadi pendidik dalam arti sesungguhnya.
Buktinya : Masih banyak kasus yang menunjukkan bahwa Guru membantu muridnya dalam mengerjakan ujian nasional. Baik melalui pesan singkat atau metode curang lainnya.
Jika guru yang ada di sekitar mereka tidak mampu menjadi pendidik bagi mereka, lalu siapa ?
Karena itulah di butuhkan pemahaman lebih dari seorang guru, bahwa tidak cukup jika dirinya hanya menjadi seorang pengajar, namun harusnya jadi seorang Pendidik, karena mereka memegang amanah penting untuk mendidik serta membentuk moral para calon pemimpin bangsa.

Menjadi Pendidik = Turut Membangun Bangsa

Usaha untuk membangun bangsa, tidak hanya di lakukan dengan memberantas para koruptor yang telah mencuri uang rakyat, namun harusnya juga memberantas kebiasaan tidak jujur yang berkembang di kalangan pelajar, karena para pelajar-pelajar muda itulah yang nantinya akan menggantikan para pemimpin dan para wakil yang rakyat yang kini menjabat. Jika kita membiarkan kebiasaan tidak jujur berkembang di sekitar mereka, maka secara tak langsung banyak prilaku negatif yang akan tertanam dalam diri mereka, sehingga melahirkan calon koruptor-koruptor baru, jika nantinya mereka menjadi pemimpin atau para wakil rakyat. Percuma jika kita memberantas koruptor yang merusak bangsa saat ini, namun koruptor-koruptor baru terus bertambah, melalui metode pendidikan yang salah.
Di sinilah fungsi pendidik di butuhkan, karena dia tidak hanya berjasa dalam mencerdaskan bangsa namun juga berperan penting dalam menjaga keutuhan serta pembangunan bangsa. Dengan turut melahirkan para pelajar muda, yang nantinya mampu menjadi pemimpin yang jujur serta bermoral baik.


9 komentar:

  1. wah ane baru tau gan, kalau ternyata pendidik dan pengajar itu beda.
    ane pikir dua kata itu sama makna.

    BalasHapus
  2. @Miftahul Anwar : iya, memang sekilas nampak sama, namun jika di perhatikan lagi, keduanya memiliki perbedaan dalam makna

    BalasHapus
  3. Guru, profesi yang mulia.
    Semoga jd guru profesional. mendidik, mengajar, membimbing.
    Hidup Guru!!!

    BalasHapus
  4. menurut pepatah... seorang guru (di gugu dan ditiru)....

    BalasHapus
  5. mendidik berarti merubah anak menjadi lebih baik / orang bener, mengajar berarti menjadikan anak menjadi lebih tahu / orang pinter. sehingga mendidik dan mengajar adalah dua aktifitas yang harus dilaksanakan secara seimbang tidak boleh berat sebelah.Orang bener tapi tidak pinter, kurang bermanfaat. Orang pinter tapi tidak bener, membawa banyak mudharat. Orang bener sekaligus pinter akan memberi banyak manfaat.

    BalasHapus
  6. Very informative, keep posting such good articles, it really helps to know about things.

    BalasHapus
  7. Interesting. Your instructions look clear but I'm not very good at this so I hope this will work well for me. Thanks for the tips!

    BalasHapus
  8. UNTUK KALIAN YANG INGIN MELAKSAKAN HAL HAL GHAIB SALAH SATUNYA ADALAH PESUGIHAN DAN PELET ANDA SUDAH BERADA DISITUS BLOG YANG TEPAT , TAPI SEBELUM DILAKSANAKANNYA HAL TERSEBUT ANDA DIWAJIB MELENGKAPI SYARAT-SYARATNYA YAITU MEMBAYAR MAHAR TERLBIH DAHULU GUNA UNTUK MEMBELI ALAT-ALAT SASAJIN ADAPUN MAHARNYA ITU BERBEDA-BEDA TERGANTUNG TINGKAT MANA YANG MAU DI AMBIL


    MAHAR YANG TERSEDIA :

    TINGKAT 1 : 7,5JT

    TINGKAT 2 : 5JT

    TINGKAT 3 : 2,5JT

    Jika Mahar tersebut Memberatkan Anda Silahkan hubungi langsung MBAH JAYA di 082314745222 Insya allah Mahar tersebut masih Bisa Dibantu Sebagian Oleh Mbah Karna Prinsip Yang di utamakan Disini Yaitu Saling TOLONG-MENOLONG dan Saling MEMPERCAYAI ANTARA ANDA DAN MBAH

    Kenapa MAHAR tersebut berbeda???
    itu karena perbedaan kecepatan penarikan DANA/UANG yang dihasilkan otomatis jika anda memilih tingkatan mahar yang lebih tinggi otomatis pula hasil yang didapatkan lebih banyak dari tingkatan dibawahnya

    BalasHapus